Langsung ke konten utama
Kampung Leluhur
Oleh : Agus G.Thuru
Kampung leluhur di lereng gunung masih tetap megah
Meski ditinggal para pewaris tahta keadaban
Bulan malam sendirian bermain leleloka*) Dan bintang-bintang menyepi di malam bulan terang
Pintu-pintu rumah adat tertutup rapat
Tanpa nyala pelita berkedip melahirkan petuah-petuah arif
Sebab para pemangku adat pun turut berkhianat
Tak lagi teguh pada warisan leluhurnya sendiri
Mereka pergi ke tanah yang bukan warisan nenek moyangnya
Kampung leluhur tanpa penghuni
Perempuan pengabdi mataraga*) pun kehilangan cinta
Tak ada lagi yang membakar arang di saat senja
Dan duduk menginang di bhejamoa*) sambil menyandungkan teke*)
Sekedar menghilangkan penat setelah menggarap tanah ladang
Kampung leluhur kami dalam balutan sunyi
Semakin kusam tanpa sentuhan tangan yang setia merawat
Menunggu saatnya atap ilalang terkelupas dimakan usia
Lalu tiba saatnya para pemilik tak lagi membutuhkan
Dan kampung leluhur pun menjadi sekedar catatan sejarah tanpa nyawa
Denpasar, 24 November 2018
*)leleloka=salah satu permainan saat bulan terang di malam hari
Mataraga = tahta kebesaran
Bhejamoa=bagian rumah adat terluar
Teke=nyanyian tradisional penuh makna wejangan moral
Komentar
Posting Komentar